Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) SPAM, Faisal Cakra menjelaskan, pengujian reservoir harus dilakukan sesuai tahapan teknis dan tidak dapat dilaksanakan secara sembarangan.
Ia mengatakan, air yang saat ini dipompa langsung dari sumur bor belum dapat dinyatakan layak untuk diminum secara langsung. Namun, air tersebut sudah dapat digunakan untuk kebutuhan nonkonsumsi, seperti mandi dan mencuci.
“Pekerjaan yang tersisa di lapangan meliputi pembersihan jaringan serta penyelesaian sejumlah detail pekerjaan. Sementara itu, sebagian besar material utama, termasuk pipa dan sambungan rumah, telah terpasang,” jelas Faisal.
Lanjut Faisal, selain pembangunan jaringan perpipaan sepanjang ribuan meter dengan berbagai ukuran, proyek tersebut juga mencakup pembangunan jembatan penyeberangan pipa, masing-masing satu unit di Rioribati dan dua unit di Kukumutu.
“Fasilitas pendukung lainnya meliputi bangunan rumah jaga dan sumur bor yang menjadi bagian dari sistem penyediaan air bersih tersebut,” tuturnya.
Faisal menegaskan, pembangunan SPAM merupakan satu kesatuan sistem yang tidak hanya mencakup bak penampungan air, tetapi juga sumber air, jaringan perpipaan, jembatan penyeberangan pipa, rumah jaga, hingga sambungan ke rumah pelanggan.
“Pada prinsipnya, SPAM ini bukan sekadar bak air, melainkan satu kesatuan sistem yang mencakup jembatan, rumah jaga, sumur bor, hingga pipa sambungan rumah. Anggaran tersedia dan tidak ada kendala, tinggal menunggu waktu penyerahan ke daerah setelah seluruh uji coba terpenuhi,” tegasnya.
Dengan progres fisik yang telah mencapai 80 persen, pembangunan SPAM di Sekolah Rakyat Rioribati dan Kukumutu kini difokuskan pada penyelesaian pekerjaan tersisa serta pemenuhan tahapan pengujian sebelum sistem diserahkan kepada pemerintah daerah untuk dioperasikan secara penuh. (Rd).






