Indonesia-Rusia Sepakat Bangun Proyek Pembangkit Nuklir Terapung 200 MW di Halmahera Utara

Rosatom dan PT Pembangkit Listrik Nuklir menyepakati proyek pembangkit nuklir terapung berkapasitas 200 MW. (Foto : Atom Media)

Pada Mei 2026, Direktur Jenderal Rosatom Alexey Likhachev kembali bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto untuk membahas prospek kerja sama pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai.

Pembahasan tersebut mencakup pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga nuklir, pembangunan infrastruktur nuklir, pelatihan tenaga kerja, serta pemanfaatan teknologi nuklir di luar sektor energi.

Rosatom menawarkan pendekatan dua tahap dalam pengembangan energi nuklir di Indonesia. Tahap pertama mencakup penggunaan unit pembangkit listrik nuklir terapung berskala kecil, sedangkan tahap kedua diarahkan pada pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di darat dengan reaktor berkapasitas besar.

Teknologi Nuklir Terapung untuk Wilayah Terpencil

Rosatom menilai pembangkit listrik nuklir terapung berpotensi membantu mengatasi keterbatasan pasokan listrik di wilayah pesisir dan daerah terpencil. Teknologi ini dirancang untuk menyediakan listrik secara berkelanjutan bagi kawasan industri maupun permukiman tanpa bergantung pada kondisi cuaca.

Sejak 2020, Rosatom telah mengoperasikan Akademik Lomonosov, pembangkit listrik tenaga nuklir terapung pertama di dunia, di Chukotka, Rusia. Pembangkit tersebut menggunakan dua reaktor KLT-40S generasi sebelumnya dan dilaporkan telah menghasilkan hampir 1,4 miliar kilowatt-jam listrik sejak mulai beroperasi.

Untuk pasar internasional, Rosatom mengembangkan FPU-100 yang menggunakan reaktor RITM-200M dan dirancang untuk beroperasi di wilayah beriklim hangat. Setiap unit memiliki kapasitas pembangkitan sebesar 100 MW.

Selain proyek di Indonesia, Rosatom juga sedang membangun pembangkit listrik nuklir berskala kecil di Uzbekistan dengan teknologi reaktor RITM-200N. Perusahaan tersebut turut mengembangkan unit FPU-106 dengan reaktor RITM-200S untuk memasok listrik bagi kawasan industri pertambangan tembaga di wilayah otonom Chukotka, Rusia.

Rosatom menyatakan saat ini tengah membangun 27 pembangkit listrik tenaga nuklir di sembilan negara, menjadikannya salah satu perusahaan dengan portofolio pembangunan PLTN luar negeri terbesar di dunia.

Rencana pengembangan pembangkit listrik nuklir terapung di Maluku Utara diharapkan dapat meningkatkan keandalan pasokan listrik, memperluas akses energi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Indonesia Timur.

Meski demikian, realisasi proyek tersebut masih bergantung pada pemenuhan persyaratan kontrak dan tahapan pelaksanaan berikutnya. Aspek perizinan, keselamatan nuklir,

perlindungan lingkungan, kesiapan infrastruktur, serta kesesuaian dengan sistem kelistrikan nasional menjadi sejumlah hal penting yang perlu diperhatikan sebelum pembangkit mulai beroperasi. (Rd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *