“Memimpin transisi energi Indonesia merupakan tujuan utama sekaligus tanggung jawab kami sebagai investor nasional. Kami sangat meyakini bahwa menyediakan listrik yang bersih, andal, dan bebas karbon bagi masyarakat merupakan hal penting untuk menjamin masa depan energi Indonesia dalam jangka panjang,” kata Yudi.
Ia menyebut energi nuklir menawarkan solusi berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional sekaligus mendukung pembangunan ekonomi, khususnya di kawasan Indonesia Timur.
Yudi juga menegaskan, proyek tersebut dirancang melalui skema bisnis ke bisnis atau business-to-business (B2B), dengan dukungan investasi sektor swasta tanpa bergantung pada pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Kami sangat berterima kasih atas kesempatan untuk memajukan kemitraan bersejarah ini dan menyampaikan apresiasi yang tulus atas dukungan berkelanjutan Pemerintah Indonesia, khususnya Kedutaan Besar Republik Indonesia di Rusia, dalam memfasilitasi pencapaian penting ini,” ucap Yudi.
Investor PT Pembangkit Listrik Nuklir, Romo Nitiyudo Wachjo, menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah penting untuk memperkuat kemandirian energi Indonesia dan membangun masa depan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
“Kesepakatan ini merupakan tonggak penting dalam ambisi bersama untuk memperkuat kemandirian energi Indonesia dan menjamin masa depan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang, tuturnya.
Nitiyudo juga menyampaikan penghargaan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, delegasi Rusia, dan Rosatom atas kerja sama serta komitmen mereka dalam kemitraan tersebut.
“Yang terpenting, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin karena telah mempercayakan kepada Profesor Yudi dan saya tanggung jawab untuk menghadirkan proyek pembangkit listrik nuklir berkapasitas 200 MW di Halmahera Utara, Maluku Utara,” ucap Nitiyudo.
Ia mengatakan, kesepakatan tersebut menjadi dasar bagi pengembangan energi yang diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat Maluku Utara dan mendorong kemajuan Indonesia Timur.
“Melalui kesepakatan bersejarah ini lanjut dia, meletakkan dasar bagi era baru pengembangan energi yang akan memberikan manfaat bagi masyarakat Maluku Utara dan berkontribusi terhadap kemajuan Indonesia Timur secara lebih luas,” ujar Nitiyudo.
Bagian dari Strategi Ketahanan Energi Nasional
Kerja sama tersebut sejalan dengan arah kebijakan pengembangan energi nuklir Indonesia. Pada 2025, pemerintah memasukkan energi nuklir ke dalam rencana energi nasional sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat ketahanan energi jangka panjang dan mendukung pencapaian target netralitas karbon pada 2060.
Sebelumnya, pada 31 Juli 2024, Prabowo Subianto, yang saat itu menjabat Menteri Pertahanan sekaligus Presiden terpilih, mengunjungi Moskow dan melakukan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin. Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menyampaikan minat Indonesia untuk menjalin kerja sama dengan Rosatom.






