Bukan Terpaksa, Tapi Pilihan: Cerita Warga Soligi Melepas Lahan untuk Bandara

Ade Ahmad menggunakan uang hasil penjualan lahan untuk biaya haji, yang dijadwalkan berangkat pada 2028, digunakan juga untuk membangun rumah dan simpanan untuk anak.

“Perusahaan datang menawarkan, tapi kalau kami tidak mau jual, tidak ada paksaan. Jadi ini karena kesepakatan,” katanya.

Ia mengakui awalnya tidak ingin melepas kebun yang ditanami langsat, durian, dan cengkeh. Namun, rencana pembangunan bandara membuatnya mempertimbangkan manfaat jangka panjang.

“Kami berharap desa bisa lebih maju dan masyarakat lebih sejahtera,” ujarnya.

Hasil penjualan lahan itu ia gunakan untuk membangun rumah dan membuka kios.

Bukan Ganti Rugi, Tapi Ganti Untung

Pengalaman warga Soligi itu memberi gambaran lain di tengah narasi yang kerap menyebut pembebasan lahan tidak transparan atau bahkan penyerobotan. Bagi Ade dan Siti, keputusan menjual lahan lahir dari proses yang mereka pahami dan setujui.

Pengalaman serupa disampaikan warga Desa Kawasi. Nur Eneng Rahmat (33), yang beberapa kali melakukan pembebasan lahan, menyebut prosesnya berlangsung terbuka sejak awal.

“Sebelum pembebasan, tim perusahaan datang menjelaskan. Lahan diukur bersama pemilik yang berbatasan, lalu harga dinegosiasikan sampai sepakat,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *