Bukan Terpaksa, Tapi Pilihan: Cerita Warga Soligi Melepas Lahan untuk Bandara

Ade Ahmad menggunakan uang hasil penjualan lahan untuk biaya haji, yang dijadwalkan berangkat pada 2028, digunakan juga untuk membangun rumah dan simpanan untuk anak.

HALSEL, pilarmalut.com – Di Desa Soligi, Pulau Obi, harapan tentang masa depan itu kini diterjemahkan dalam satu bayangan sederhana: bandara yang lebih dekat, akses yang lebih mudah, dan peluang yang lebih terbuka.

Bagi Ade Ahmad (48), harapan itu dimulai dari keputusan melepas lahannya untuk proyek pembangunan bandara.

“Saya menjual lahan karena mendukung pembangunan bandara, yang kami harapkan bisa membuka peluang usaha,” ujarnya.

Dari hasil penjualan lahannya, ia gunakan untuk membangun rumah, menyiapkan biaya ibadah haji, dan menabung untuk masa depan anak.

“Manfaatnya besar buat saya. Insya Allah saya berangkat haji tahun 2028,” katanya.

Bagi Ade, pembebasan lahan bukan sekadar transaksi, melainkan bagian dari ikhtiar memperbaiki kehidupan. Ia meyakini, kehadiran bandara akan membawa perubahan nyata bagi warga.

“Dengan adanya bandara, kehidupan masyarakat bisa lebih baik. Nanti ke mana-mana jadi lebih dekat,” ujarnya sambil tersenyum.

Pandangan serupa disampaikan Siti Aminah (52). Lahan yang dulu dikelola almarhum suaminya akhirnya dilepas untuk pembangunan bandara. Meski sempat ragu, ia melihat keputusan itu sebagai bagian dari harapan bersama warga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *