“Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat perlu terus diperkuat demi menjaga laut sekaligus memastikan pembangunan daerah berjalan berkelanjutan,” tutur Bassam.
Dari perspektif akademis, Guru Besar Manajemen Kesehatan Ikan Universitas Khairun, Muh. Aris, memandang dokumentasi keanekaragaman hayati dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan lingkungan yang berbasis pengetahuan dan data. Praktik pertambangan yang baik, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem.
Sementara itu, Ahli Genetika Ikan Universitas Sam Ratulangi, Ari Berty Rondonuwu, menilai publikasi mengenai ikan karang memiliki nilai edukasi yang penting bagi generasi muda, terutama untuk mengenalkan kekayaan hayati yang berada di lingkungan mereka sendiri.
“Saat anak-anak di Pulau Obi mulai bisa menyapa nama dan mengenali rupa ikan di halaman rumah mereka sendiri, di situlah benih rasa memiliki dan kesadaran menjaga alam tumbuh paling kuat,” tutur Ari.
Melalui publikasi ini, hasil pemantauan bawah laut perairan wilayah operasional Harita Nickel dikembangkan menjadi pengetahuan yang dapat diakses dan dimanfaatkan secara lebih luas.
Langkah tersebut menjadi bagian dari pendekatan perusahaan untuk memperkuat pengelolaan keanekaragaman hayati berbasis data, meningkatkan literasi lingkungan, serta membangun kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam mendukung keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut Indonesia khususnya Pulau Obi, yang selaras dengan semangat Sustainable Development Goal (SDG) 14: Life Below Water, terutama dalam mendorong peningkatan pengetahuan, kesadaran, serta pengelolaan ekosistem laut dan pesisir secara berkelanjutan. (Rd).






