Sebelum diberangkatkan, seluruh anggota tim mempersiapkan fisik, mental, dan perlengkapan penunjang seperti tenda, life jacket, obat-obatan, senter, alat pelindung diri (APD), serta peralatan mountaineering untuk menghadapi medan ekstrem.
“Walaupun tantangan di lapangan tidak mudah, seperti cuaca yang sering berubah dan medan yang berat, sinergi antar instansi dan Potensi SAR serta semangat gotong royong tetap membuat tim kita solid,” ungkap Yani Alhabsi.
Tantangan terbesar dalam misi ini adalah akses yang terputus akibat rusaknya berbagai infrastruktur. Gangguan komunikasi dan keterbatasan sumber daya turut memperlambat proses respons, sehingga tim harus bekerja lebih keras untuk menjangkau wilayah yang terisolasi.
Di banyak lokasi, banjir dan lumpur setinggi dada memaksa tim menggunakan perahu karet untuk menyalurkan bantuan dan mengevakuasi warga, sering kali menghadapi arus deras dan kondisi lapangan yang sangat berat.






