Festival Ela-Ela Sofifi: Warisan Budaya Moloku Kie Raha Sambut Malam Lailatul Qadar

Keceriaan masyarakat Maluku Utara di momentum Ela Ela sambut malam Lailatul Qadar.

Ia pun menjelaskan, esensi dari Festival Ela-Ela adalah menggapai kemuliaan serta keberkahan malam Lailatul Qadar.

“Jaman dahulu, pada festival ela-ela saya membakar batang pisang sebagai obor dan damar,” kenang Wagub.

“Ela-ela merupakan akulturasi budaya lokal dan nilai keagamaan yang perlu dilestarikan,” harapnya.

Sebagai informasi Festival Ela-Ela Sofifi di ikuti oleh 700 peserta yang terbagi dalam 30 kelompok dari berbagai elemen masyarakat seperti majelis taklim, karang taruna, muslimat NU, siswa SD/SMP/SMA di Tidore Kepulauan serta ikatan pemuda, adanya marching band menambah kemeriahan semarak festival ini. Salah satu OPD yang menjadi peserta pawai adalah Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Utara. Pawai obor mengambil rute Bundaran-Desa Balbar-Baromadoi kemudian finish di pelataran Masjid Raya.

Di akhir sambutannya, Wagub mengucapkan terima kasih kepada Biro Kesejahteraan Rakyat dan DKM Shaful Khairaat yang telah bersinergi bersama dalam mensukseskan Festival Ela-Ela Sofifi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *